Jumat, 09 Juni 2017

Mari Mengenal Hadits

Pengertian Hadits
Hadits adalah segala perkataan (sabda), perbuatan dan ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama Islam. Hadits dijadikan sumber hukum dalam agama Islam selain Al-Qur'an, Ijma dan Qiyas, dimana dalam hal ini, kedudukan hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur'an.

Ada banyak ulama periwayat hadits, namun yang sering dijadikan referensi hadits-haditsnya ada tujuh ulama, yakni Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Turmudzi, Imam Ahmad, Imam Nasa'i, dan Imam Ibnu Majah.

Ada bermacam-macam hadits, seperti yang diuraikan di bawah ini.

•                    Hadits yang dilihat dari banyak sedikitnya perawi

•                    Hadits Mutawatir

•                    Hadits Ahad

•                    Hadits Shahih

•                    Hadits Hasan

•                    Hadits Dha'if

•                    Menurut Macam Periwayatannya

•                    Hadits yang bersambung sanadnya (hadits Marfu' atau Maushul)

•                    Hadits yang terputus sanadnya

•                    Hadits Mu'allaq

•                    Hadits Mursal

•                    Hadits Mudallas

•                    Hadits Munqathi

•                    Hadits Mu'dhol

•                    Hadits-hadits dha'if disebabkan oleh cacat perawi

•                    Hadits Maudhu'

•                    Hadits Matruk

•                    Hadits Mungkar

•                    Hadits Mu'allal

•                    Hadits Mudhthorib

•                    Hadits Maqlub

•                    Hadits Munqalib

•                    Hadits Mudraj

•                    Hadits Syadz

•                    Beberapa pengertian dalam ilmu hadits

•                    Beberapa kitab hadits yang masyhur / populer



I. Hadits yang dilihat dari banyak sedikitnya Perawi

I.A. Hadits Mutawatir

Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad yang tidak mungkin sepakat untuk berdusta. Berita itu mengenai hal-hal yang dapat dicapai oleh panca indera. Dan berita itu diterima dari sejumlah orang yang semacam itu juga. Berdasarkan itu, maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar suatu hadits bisa dikatakan sebagai hadits Mutawatir:

1.            Isi hadits itu harus hal-hal yang dapat dicapai oleh panca indera.

2.            Orang yang menceritakannya harus sejumlah orang yang menurut ada kebiasaan, tidak mungkin berdusta. Sifatnya Qath'iy.

3.            Pemberita-pemberita itu terdapat pada semua generasi yang sama.

I.B. Hadits Ahad

Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang atau lebih tetapi tidak mencapai tingkat mutawatir. Sifatnya atau tingkatannya adalah "zhonniy". Sebelumnya para ulama membagi hadits Ahad menjadi dua macam, yakni hadits Shahih dan hadits Dha'if. Namun Imam At Turmudzy kemudian membagi hadits Ahad ini menjadi tiga macam, yaitu:

I.B.1. Hadits Shahih

Menurut Ibnu Sholah, hadits shahih ialah hadits yang bersambung sanadnya. Ia diriwayatkan oleh orang yang adil lagi dhobit (kuat ingatannya) hingga akhirnya tidak syadz (tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih) dan tidak mu'allal (tidak cacat). Jadi hadits Shahih itu memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :

1.            Kandungan isinya tidak bertentangan dengan Al-Qur'an.

2.            Harus bersambung sanadnya

3.            Diriwayatkan oleh orang / perawi yang adil.

4.            Diriwayatkan oleh orang yang dhobit (kuat ingatannya)

5.            Tidak syadz (tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih)

6.            Tidak cacat walaupun tersembunyi.

I.B.2. Hadits Hasan

Ialah hadits yang banyak sumbernya atau jalannya dan dikalangan perawinya tidak ada yang disangka dusta dan tidak syadz.

I.B.3. Hadits Dha'if

Ialah hadits yang tidak bersambung sanadnya dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil dan tidak dhobit, syadz dan cacat.

II. Menurut Macam Periwayatannya

II.A. Hadits yang bersambung sanadnya

Hadits ini adalah hadits yang bersambung sanadnya hingga Nabi Muhammad SAW. Hadits ini disebut hadits Marfu' atau Maushul.

II.B. Hadits yang terputus sanadnya

II.B.1. Hadits Mu'allaq

Hadits ini disebut juga hadits yang tergantung, yaitu hadits yang permulaan sanadnya dibuang oleh seorang atau lebih hingga akhir sanadnya, yang berarti termasuk hadits dha'if.

II.B.2. Hadits Mursal

Disebut juga hadits yang dikirim yaitu hadits yang diriwayatkan oleh para tabi'in dari Nabi Muhammad SAW tanpa menyebutkan sahabat tempat menerima hadits itu.

II.B.3. Hadits Mudallas

Disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya. Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh sanad yang memberikan kesan seolah-olah tidak ada cacatnya, padahal sebenarnya ada, baik dalam sanad ataupun pada gurunya. Jadi hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya.

II.B.4. Hadits Munqathi

Disebut juga hadits yang terputus yaitu hadits yang gugur atau hilang seorang atau dua orang perawi selain sahabat dan tabi'in.

II.B.5. Hadits Mu'dhol

Disebut juga hadits yang terputus sanadnya yaitu hadits yang diriwayatkan oleh para tabi'it dan tabi'in dari Nabi Muhammad SAW atau dari Sahabat tanpa menyebutkan tabi'in yang menjadi sanadnya. Kesemuanya itu dinilai dari ciri hadits Shahih tersebut di atas adalah termasuk hadits-hadits dha'if.

III. Hadits-hadits dha'if disebabkan oleh cacat perawi

III.A. Hadits Maudhu'

Yang berarti yang dilarang, yaitu hadits dalam sanadnya terdapat perawi yang berdusta atau dituduh dusta. Jadi hadits itu adalah hasil karangannya sendiri bahkan tidak pantas disebut hadits.

III.B. Hadits Matruk

Yang berarti hadits yang ditinggalkan, yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi saja sedangkan perawi itu dituduh berdusta.

III.C. Hadits Mungkar

Yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya / jujur.

III.D. Hadits Mu'allal

Artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani bahwa hadis Mu'allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. Hadits ini biasa disebut juga dengan hadits Ma'lul (yang dicacati) atau disebut juga hadits Mu'tal (hadits sakit atau cacat).

III.E. Hadits Mudhthorib

Artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidak sama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan.

III.F. Hadits Maqlub

Artinya hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi).

III.G. Hadits Munqalib

Yaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah.

III.H. Hadits Mudraj

Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang didalamnya terdapat tambahan yang bukan hadits, baik keterangan tambahan dari perawi sendiri atau lainnya.

III.I. Hadits Syadz

Hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah (terpercaya) yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi-perawi (periwayat / pembawa) yang terpercaya pula. Demikian menurut sebagian ulama Hijaz sehingga hadits syadz jarang dihapal ulama hadits. Sedang yang banyak dihapal ulama hadits disebut juga hadits Mahfudz.


Sekian informasi dari saya semoga bermanfaat bagi kita semua.
Tidak ada yang sempurna kecuali Allah Swt. Maka dari mohon maafkan saya jika ada salah kata dan informasi
Wassalamualaikum wr wb

Kamis, 08 Juni 2017

Keutamaan Kitab Sempurna

¨  Pengertian al-Qur’an menurut bahasa

Al-qur’an itu merupakan himpunan huruf-huruf dan kata-kata yang dapat dibaca.

¨  Pengertian al-Qur’an secara istilah

Firman allah SWT yang menjadi mu’jizat abadi kepada rasulullah  yg tidak mungkin bisa ditandingi oleh manusia,  diturunkan kedalam hati rasulullah SAW, diturunkan ke generasi berikutnya secara mutwatir, ketika dibaca bernilai ibadah dan berpahala besar.

¨  Nama-Nama al-Qur’an :

Al-Qur’an, Al-kitab , Al-huda , Rahmah , Nur,  Ruh,  Syifa’, Al-haq,  Bayan,  Maiuzhoh, Dzikr , Naba’

¨  Fungsi al-Qur’an :

Kitab berita , Kitab hukum dan aturan , Kitab berjuang , Kitab pendidikan , Kitab ilmu pengetahuan

¨  Pokok ajaran dan isi kandungan al-Qur’an :

Tauhid , Ibadah , Akhlak , Hukum , Hubungan masyarakat , Janji dan ancaman , Sejarah

¨  Keistimewaan dan keutamaan al-Qur’an

Memberi petunjuk lengkap disertai hukumnya, Susunan  ayat yg mengagumkan dan mempengaruhi jiwa pendengarnya, Menghilangkan ketidakbebasan berfikir yg melemahkan daya upaya dan kretifitas manusia, Memberi penjelasan ilmu pengetahuan, Memuliakan akal sebagai dasar memahami urusan manusia dan hukum-hukumnya, Menghilangkan perbedaan antar manusia dari sisi kelas dan fisik.

Jujur dalam setiap Perkataan

Orang yang jujur, menjadi patokan penting sehingga ia bisa dipercayai. Jujur ini berarti kesesuaian antara apa yang diucapkan/dikatakan atau diperbuat dengan kenyataan yang ada/benar-benar terjadi.

Jadi, apabila ada berita yang sesuai dengan situasi, kondisi yang ada, maka itu adalah benar/jujur adanya, akan tetapi jika tidak, maka dikatakan dusta. Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk bersikap benar, baik dalam perbuatan maupun dalam ucapan, sebagaimana firmanNya :
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar." (QS At-Taubah/9:119)




Kejujuran itu ada pada ucapan, adapula pada perbuatan, sebagaimana seseorang yang melakukan suatu perbuatan, tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. Ketika berani untuk mengatakan "tidak" untuk korupsi, berusaha untuk menjauhi apa yang namanya korupsi.

Jangan sampai jika sudah mengatakan tidak, namun kenyataannya melakukan korupsi. Demikian juga orang munafik, tidaklah dikatakan sebagai orang yang jujur karena ia menampakkan dirinya sebagai orang yang bertauhid, padahal hatinya jelas tidak.

Dan yang jelas, kejujuran adalah sifat orang-orang yang beriman, sedangkan lawannya, ialah dusta, adalah sifat orang yang munafik. Ciri-ciri orang munafik adalah dusta, ingkar janji dan khianat sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Muhammad SAW bersabda "Tanda orang munafik ada 3, yaitu : apabila berbicara dusta, apabila berjanji mengingkari dan apabila dipercaya khianat." (HR. Bukhari Muslim).
Ibnu Qayyim berkata, dasar iman yakni kejujuran (kebenaran), sedangkan dasar nifaq adalah kebohongan/dusta. Tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain.

Allah SWT menegaskan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mempu menyelamatkannya dari azab, kecuali kejujurannya (kebenarannya).
Allah berfirman, "Inilah saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepadaNya. itulah kemenangan yang agung." (QS Al-Maidah/5:119)